Ini Alasan Kenapa Anak Bagus Bermain di Lingkungan Kotor

Satu hal yang sangat diperhatikan oleh para orang tua pada tumbuh kembang anaknya adalah masalah kebersihan. Apalagi menurut kumparan terutama anak balita yang dianggap masih membutuhkan lingkungan yang bersih untuk mengeksplor kemampuannya.

Padahal anak yang tumbuh di lingkungan terlalu bersih juga tak bagus untuk kesehatannya, seperti dikutip dari Parenting.

Orang tua mungkin sibuk untuk membersihkan debu lantai, lemari, dan spot lainnya yang bisa menjadi sarang berkembang bakteri. Namun tak melulu harus selalu bersih, karena lingkungan yang terlalu bersih hanya akan mempermudah anak terjangkit penyakit.

Seorang anak balita yang lebih dini diperkenalkan dengan lingkungan kotor justru akan membangun sistem imunnya menjadi lebih kuat, sehingga tingkat risiko terkena alergi dan asma akan menurun.

Penelitian pun dilakukan dengan hasil studi yang telah diterbitkan pada Journal of Allergy and Clinical Immunology dengan melibatkan sebanyak 467 anak-anak. Semua anak ini dipantau pertumbuhannya sejak lahir sampai mereka berusia tiga tahun.

Hasilnya pun cukup mencengangkan. Anak-anak yang terpapar oleh tikus, kucing, dan kotoran kecoa sebelum mereka beranjak usia satu tahun ternyata memiliki tingkat alergi yang lebih rendah, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terpapar langsung.

Meskipun begitu, para peniliti tidak lantas mengizinkan orang tua untuk memelihara hewan seperti tikus ataupun kecoa di rumah. “Kami tidak menyarankan orang tua untuk menyimpan hewan pengerat seperti tikus ataupun kecoa di dalam rumah. Hasil data hanya menunjukkan bahwa terlalu bersih mungkin tidak terlalu baik bagi pertumbuhan anak,” ungkap Robert Wood, salah satu penulis studi yang juga menjabat sebagai Kepala Divisi Alergi dan Imunologi di Johns Hopkins Children’s Center.

Peneliti lain asal Arizona menuturkan hal yang sama. “Studi ini menegaskan jika salah satu alasan mengapa asma, alergi, dan alergi makanan terus meningkat adalah karena faktor lingkungan yang terlalu steril,” ucap Amy Shah, seorang pakar THT.

Hingga saat ini, para peniliti masih berusaha menerjemahkan temuan mereka ke dalam pola asuh orang tua kepada anak. Shah juga berharap jika penelitian ini bisa menyadarkan orang tua tentang pentingnya seorang anak menjadi kotor atau terpapar bakteri saat mereka masih berusia dini.

Sumber : kumparan.com


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *